Serie A Jadi Liga yang Paling Agresif Dalam Lima Musim Terakhir

Serie A Jadi Liga yang Paling Agresif Dalam Lima Musim Terakhir

Kabar5.Com, | Ada persepsi yang terus berlaku tentang Serie A selama ini, yaitu kompetisi sepakbola dengan seni bertahan. Secara stereotip, seni bertahan di Serie A memang benar adanya. Lagipula dari liga itu jugalah lahir Paolo Maldini yang mampu bertahan dengan baik tanpa sering melakukan tekel-tekel agresif. 

Tapi seiring dengan waktu, Serie A semakin menunjukan bahwa sepakbola menyerang yang diperagakan mampu sama baiknya dengan seni bertahan. Asumsi itu bisa diperkuat oleh laporan dari Opta melalui grafiknya yang bisa menunjukkan bahwa Serie A menjadi liga dengan serangan terbaik di antara lima liga top Eropa lainnya jika dilihat dari rataan tembakan ke arah gawang. Opta menunjukkan bahwa kesebelasan-kesebelasan Serie A mampu melepaskan tembakan ke arah gawang dengan rataan 26,5 per laga.

Rataan itu mengalahkan rasio 25,5 di Liga Primer Inggris dan 25 di Bundesliga mengenai tembakan yang mengarah ke gawang per laga. Sementara La Liga dan Ligue 1 sama-sama melakukan 24 kali tembakan yang mengarah ke gawang.

Hal ini menunjukkan kepada kita jika pertandingan di Serie A rata-rata memiliki angka tembakan yang lebih banyak daripada liga top lainnya di Eropa. Jika angka tembakan mencerminkan penyerangan, maka Serie A adalah liga dengan penyerangan terbaik.

Rekapitulasi yang dibuat Opta juga menunjukkan bahwa tembakan ke arah gawang di Serie A tergolong stabil dalam lima musim terakhir. Penurunan yang terjadi dari musim 2012/2013 dinilai tidak terlalu drastis sampai musim lalu. Kestabilan itu karena penurunan tembakan ke arah gawang Serie A tidak pernah di bawah angka 26 di setiap musimnya.

Ligue 1 pun terbilang stabil. Namun kestabilan catatan Liga Prancis itu terus berkutat di bawah rataan 24 per laga. Penurunan drastis justru terjadi di Liga Primer Inggris dalam lima musim terakhir. Rataan tinggi pada musim 2012/2013 justru semakin menukik tajam sampai tahun lalu. Penurunan signifikan juga terjadi di Bundesliga dalam tiga musim ke belakang ini. Sementara La Liga sempat menukik tajam dari musim ke musimnya, tapi perlahan sudah mulai naik lagi sejak 2014/2015 sampai musim lalu.

Proses tembakan ke arah gawang bukan hanya terjadi di dalam kotak penalti saja. Tentu beberapa kali juga dilakukan melalui jarak jauh atau di luar kotak 16 tersebut. Proses seperti itulah yang menjadi salah satu keunggulan Serie A dan menjadi liga paling banyak melepaskan tembakan jarak jauh ke arah gawang pada musim lalu. Kesebelasan-kesebelasan di Italia sanggup melepaskan tembakan jarak jauh ke gawang dengan rataan 18,75 per laga.

Perolehan itu cuma bisa disamai La Liga dan Ligue 1 di antara lima liga top lainnya di Eropa. Angka terendah justru didapatkan Bundesliga dan Liga Primer yang melakukannya dengan rataan 18 kali di setiap musimnya. Dua catatan yang dilaporkan Opta itu setidaknya bisa menunjukkan bahwa Serie A semakin berkembang dengan stabil soal permainan sepakbola menyerangnya. Di sisi lain, itu juga menjadi anti-tesis bahwa sepakbola menyerang di Serie A tidak hanya sekadar gambaran dari Arrigo Sacchi saja.

Anti tesis dan pematahan sepakbola bertahan di Serie A oleh Sacchi mampu bertahan dan justru semakin berkembang sampai sekarang. Sementara itu, sepakbola menyerang di Serie A tidak lepas dari tiga kesebelasan yang mengadopsi gaya sepakbola tersebut, yaitu AS Roma, Napoli dan Juventus. Perkembangan paling signifikan dalam sepakbola menyerang di Serie A mampu ditunjukkan Roma. Hal itu tidak lepas dari keberadaan Luciano Spalletti yang menjadi pelatih Roma untuk kedua kalinya pada 13 Januari 2016.

Walau Spalletti cuma bertahan satu setengah musim pada periode keduanya, tapi selama itu ia mampu membuat Roma menjadi kesebelasan menyerang yang mengesankan, terutama pada musim 2016/2017. Hal yang paling kentara adalah kemampuannya menyulap Edin Dzeko menjadi pencetak gol terbanyak Serie A 2016/2017. Padahal Dzeko menjalani musim yang buruk bersama Roma pada musim sebelumnya. Tapi di bawah Spalletti, Dzeko mampu menjadi pencetak gol terbanyak Serie A 2016/2017.

Total, Dzeko mengoleksi 29 gol dari 5,2 tembakan mengarah ke gawang di setiap pertandingannya. Ia juga menunjukkan betapa bahayanya jika dibiarkan di dalam kotak penalti karena 4,6 tembakannya ke arah gawang terjadi di area tersebut. Rataannya itu mengalahkan Gonzalo Higuain dari Juventus yang melepaskan 4,1 tembakan terarah ke gawang lawan per laga yang terjadi di kotak penalti.

Bahkan efektivitas Dzeko di dalam kotak penalti itu mampu mengalahkan Cristiano Ronaldo pada musim 2013/2014. Pada musim itu Ronaldo melepaskan 4,4 tembakan yang mengarah ke gawang dari dalam kotak penalti. Namun apa yang dilakukan Dzeko itu akan menjadi pertanyaan pada musim ini. Tanpa Spalletti dan Mohamed Salah yang telah pergi, apakah Dzeko masih bisa menjaga produktivitasnya atau tidak.

Memang Eusebio Di Francesco yang menjadi Pelatih Roma saat ini juga menerapkan strategi menyerang. Tugasnya dengan Sassuolo pada musim sebelum-sebelumnya pun dijalani dengan baik. Namun tetap saja ia memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar di kesebelasan berjuluk I Lupi (Si Serigala) tersebut. Sementara kesebelasan lain yang berkontribusi besar terhadap perkembangan sepakbola di Serie A adalah Juventus.

Mereka sanggup melepaskan 15,3 tembakan ke arah gawang per laga selama musim lalu. Memang rataan itu masih kalah dari Roma yang bisa melepaskan 17,8 tembakan ke arah gawang di setiap pertandingannya, tapi serangan Juventus tidak kalah mematikan dibandingkan saingannya tersebut. Buktinya, jumlah kekalahan Juventus lebih sedikit dibandingkan Roma pada musim lalu. Juventus kalah lima kali, sementara Roma mesti rela dikalahkan kesebelasan lain sebanyak tujuh kali.

Kelebihan Juventus lainnya karena mereka mampu melepaskan tembakan ke arah gawang terbanyak kedua tanpa mengorbankan kekuatannya di lini belakang. Buktinya, Juventus menjadi kesebelasan yang paling sedikit kebobolan pada musim lalu. Kesebelasan besutan Masimilliano Allegri itu cuma kebobolan 27 kali selama Serie A 2016/2017. Sedangkan perubahan terbesar terjadi di Napoli yang menjadi warna baru di Serie A sejak ditukangi Maurizio Sarri.

Sejak ia menjadi Pelatih Napoli pada 2015 lalu, Napoli menjadi salah satu kesebelasan yang dicintai di Serie A melalui permainan umpan-umpan pendek dan pergerakan para pemainnya di lapangan. Serangan mereka pun tetap mengesankan walau ditinggalkan Higuain ke Juventus sejak 2016 lalu. Seharusnya Napoli merasa sangat kehilangan Higuain karena 45% gol Napoli musim 2015/2016 berasal dari penyerang itu.

Kontribusinya itu juga yang menjadikannya pencetak gol terbanyak Serie A 2016/2016. Tapi nyatanya, tanpa Higuain pun Sarri tetap membuat lini depan Napoli tetap tajam atas keberadaan Dries Mertens. Pada musim lalu, Mertens sanggup mencetak 28 gol. Sekali lagi ia menjebol gawang lawan, ia bisa menyamai perolehan Dzeko yang pada akhirnya menjadi pencetak gol terbanyak di Serie A 2016/2017. Maka dari itu salah jika masih ada yang menganggap bahwa Serie A semakin membosankan.

Ada baiknya meluangkan waktu dulu untuk menyimak setiap pertandingan Serie A. Dari situlah akan mengenal dan melihat perbedaan Serie A dengan liga lainnya. Hampir seluruh kesebelasan Serie A menerapkan permainan menyerang pada musim ini. Apalagi Internazionale Milan semakin atraktif seiring dilatih Spalletti yang sebelumnya membuat Roma sangat agresif. Atalanta, SS Lazio, dan kesebelasan lainnya pun siap tampil terbuka dan lebih menyenangkan jika ditonton. (red)

banner 468x60

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.